Kesederhanaan, kerja keras, keramahtamahan, penghargaan terhadap alam dan budaya; barangkali hal-hal itulah yang ingin dipelajari oleh para siswa SMA Bunda Hati Kudus , Kota Wisata - Bogor dari para petani sederhana yang tinggal di lereng Merapi. Lewat metode live in, para siswa SMA BHK belajar dengan ikut mengalami sendiri kehidupan masyarakat Lereng Merapi di Wilayah Lor Senowo Paroki Sumber. Kegiatan live in yang berlangsung tanggal 12 - 16 Februari iniDalam kegiatan live in ini para peserta tinggal bersama keluarga angkat yang mayoritas berprofesi sebagai petani kecil di pedesaan lereng Merapi. Mereka mengikuti aktifitas yang dilakukan oleh keluarga angkat dan berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggal untuk mengenal realitas hidup masyarakat kecil di desa yang merupakan sosok pekerja keras, sederhana, rukun dan toleran.
Menjadi bintang tamu acara bincang bebas radio komunitas DRR Merapi 107.7 FM
Wilayah tempat peserta tinggal selama kegiatan live in berlangsung merupakan kawasan yang terletak sebelah barat lereng Merapi, yang berjarak antara 7 - 10 km dari puncak Merapi. Seperti diketahui, Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia yang menjadi pusat perhatian para ahli vulkanologi, politisi, pers dan masyarakat umum selama periode erupsi Merapi 2006 yang lalu.Lewat pemberitaan media elektronik dan cetak, masyarakat di luar wilayah Merapi mendapatkan informasi aktifitas Merapi; yang sayangnya kadangkala diberitakan berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dan dialami oleh masyarakat yang tinggal di lereng Merapi.
Untuk mengetahui secara langsung dan mengamati dari dekat aktifitas Merapi, pada hari kedua peserta Live in mengadakan wisata edukasi ke Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan.
Pos yang terletak pada ketinggian 1278 m dpl ini merupakan salah satu Pos Pengamatan aktifitas gunung Merapi yang siaga memantau dan melaporkan aktifitas vulkanis Merapi.
Dari hasil pantuan penjaga pos, laporan disampaikan ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Yogyakarta untuk selanjutnya diteruskan atau diakses oleh pihak-puhak yang berkepentingan (pemerintah, pers, masyarakat umum)
Dalam kunjungan ke Pos Babadan ini, peserta yang dipandu petugas jaga pos berkeliling kompleks Pos Pengamatan melihat-lihat peralatan yang digunakan dalam tugas pemantauan serta melihat langsung bungker perlindungan . Peserta juga melakukan tanya jawab dengan petugas jaga mengenai aktifitas gunung Merapi.
mengamati peta dan foto aktifitas vulkanis G. Merapi
Pada hari ketiga, peserta melakukan kegiatan misa alam dan budaya lewat kegiatan susur sungai dan kunjungan ke Padepokan Seni Cipta Budaya Merapi dusun Tutup Ngisor.Misa ini bertujuan menyadarkan kepada para siswa bahwa memuliakan Tuhan tidak hanya dilakukan lewat ritual-ritual di gedung-gedung peribadatan saja, akan tetapi bisa dilakukan di alam terbuka, alam indah ciptaan Tuhan, yang harus kita syukuri dan kita jaga dan dalam bentuk kegiatan sehari-hari.
Di Padepokan Cipta Budaya, peserta menikmati performance art berupa tari topeng dan berdialog dengan pemimpin komunitas seni Cipta Budaya Bp. Sitras Anjilin.
Bersamaan dengan hari Valentine, seusai misa diadakan penanaman bibit pohon di sekitar mata air sebagai wujud cinta kepada alam.
Desa-desa di lereng Merapi dikenal kaya akan berbagai kesenian tradisi. Kesenian ini merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari warga dan menjadi media yang menghimpun dan mempersatukan masyarakat dari berbagai latar belakang status sosial, kedudukan maupun kepercayaan.Dalam kegiatan live in ini, peserta melakukan interaksi dengan komunitas kesenian yang ada di lingkungan mereka tinggal dan belajar kesenian tradisi untuk dipentaskan dalam malam pentas seni dan keakraban.
Sungguh mengagumkan, hanya dalam 1 - 2 kali latihan, para peserta tidak canggung mementaskan berbagai kesenian seperti tarian Jalantur, Dayakan, Cakar Lele, Warokan dan tari black didot yang sudah sangat jarang bahkan hampir tidak mungkin lagi ditemui di tempat asal peserta.
Berbekal kostum pinjaman dari warga serta hiasan yang dibuat sendiri dari daun-daunan, para peserta berbagi kegembiraan dengan warga di sekitar Gubug Sela Merapi.
Refleksi bersama
Di akhir kegiatan live in, peserta berkumpul di Gubug Sela Merapi untuk refleksi bersama dan berpamitan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan kembali pulang ke kota Bogor.Lima hari tinggal bersama masyarakat merupakan waktu yang sangat singkat; hanya sepotong proses belajar dalam rentang waktu yang amat panjang dalam kehidupan para siswa-siswi. Dalam lima hari ini pula ada banyak pengalaman baru yang didapat oleh peserta. Dan akhirnya, semua pengalaman yang didapat dalam kegiatan live in tersebut hanya akan berguna jika direnungkan, direfleksikan untuk kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan mendatang.
Kenang-kenangan dari SMA BHK kepada umat Gubug Sela Merapi(Komentar, saran dan kritik bisa dialamatkan kepada email admin - Trims)























































































































































































