Minggu, 17 Februari 2008

Live in SMA Bunda Hati Kudus, Kota Wisata - Bogor

Kesederhanaan, kerja keras, keramahtamahan, penghargaan terhadap alam dan budaya; barangkali hal-hal itulah yang ingin dipelajari oleh para siswa SMA Bunda Hati Kudus , Kota Wisata - Bogor dari para petani sederhana yang tinggal di lereng Merapi. Lewat metode live in, para siswa SMA BHK belajar dengan ikut mengalami sendiri kehidupan masyarakat Lereng Merapi di Wilayah Lor Senowo Paroki Sumber. Kegiatan live in yang berlangsung tanggal 12 - 16 Februari ini
diikuti oleh 81 orang Siswa-siswi dan guru pendamping yang ditempatkan di lingkungan Grogol, Kajangkoso, Sewukan , Semen dan Dadapan.

Dalam kegiatan live in ini para peserta tinggal bersama keluarga angkat yang mayoritas berprofesi sebagai petani kecil di pedesaan lereng Merapi. Mereka mengikuti aktifitas yang dilakukan oleh keluarga angkat dan berinteraksi dengan lingkungan tempat tinggal untuk mengenal realitas hidup masyarakat kecil di desa yang merupakan sosok pekerja keras, sederhana, rukun dan toleran.

Peserta sampai di Gubug Sela Merapi

Naik angkutan khas desa menuju tempat tinggal

Aktifitas di ladang

Refleksi harian bersama di lingkungan

Menjadi bintang tamu acara bincang bebas radio komunitas DRR Merapi 107.7 FM

Volcano Trekking ke Pos Pengamatan Gunung Berapi Babadan

Wilayah tempat peserta tinggal selama kegiatan live in berlangsung merupakan kawasan yang terletak sebelah barat lereng Merapi, yang berjarak antara 7 - 10 km dari puncak Merapi. Seperti diketahui, Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi paling aktif di dunia yang menjadi pusat perhatian para ahli vulkanologi, politisi, pers dan masyarakat umum selama periode erupsi Merapi 2006 yang lalu.
Lewat pemberitaan media elektronik dan cetak, masyarakat di luar wilayah Merapi mendapatkan informasi aktifitas Merapi; yang sayangnya kadangkala diberitakan berlebihan dan tidak sesuai dengan kenyataan yang ada dan dialami oleh masyarakat yang tinggal di lereng Merapi.

Untuk mengetahui secara langsung dan mengamati dari dekat aktifitas Merapi, pada hari kedua peserta Live in mengadakan wisata edukasi ke Pos Pengamatan Gunung Merapi Babadan.
Pos yang terletak pada ketinggian 1278 m dpl ini merupakan salah satu Pos Pengamatan aktifitas gunung Merapi yang siaga memantau dan melaporkan aktifitas vulkanis Merapi.

Dari hasil pantuan penjaga pos, laporan disampaikan ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi di Yogyakarta untuk selanjutnya diteruskan atau diakses oleh pihak-puhak yang berkepentingan (pemerintah, pers, masyarakat umum)

Dalam kunjungan ke Pos Babadan ini, peserta yang dipandu petugas jaga pos berkeliling kompleks Pos Pengamatan melihat-lihat peralatan yang digunakan dalam tugas pemantauan serta melihat langsung bungker perlindungan . Peserta juga melakukan tanya jawab dengan petugas jaga mengenai aktifitas gunung Merapi.



Pose bersama, 4 Km dari puncak Gunung Merapi


Games pengisi waktu dan menjalin keakraban



Sebagian guru dan suster pendamping

dari jendela bungker...

menyimak penjelasan petugas jaga pos

mengamati peta dan foto aktifitas vulkanis G. Merapi

Valentine Bumi, misa alam dan budaya di Lereng Merapi

Pada hari ketiga, peserta melakukan kegiatan misa alam dan budaya lewat kegiatan susur sungai dan kunjungan ke Padepokan Seni Cipta Budaya Merapi dusun Tutup Ngisor.

Misa ini bertujuan menyadarkan kepada para siswa bahwa memuliakan Tuhan tidak hanya dilakukan lewat ritual-ritual di gedung-gedung peribadatan saja, akan tetapi bisa dilakukan di alam terbuka, alam indah ciptaan Tuhan, yang harus kita syukuri dan kita jaga dan dalam bentuk kegiatan sehari-hari.

Di Padepokan Cipta Budaya, peserta menikmati performance art berupa tari topeng dan berdialog dengan pemimpin komunitas seni Cipta Budaya Bp. Sitras Anjilin.

Bersamaan dengan hari Valentine, seusai misa diadakan penanaman bibit pohon di sekitar mata air sebagai wujud cinta kepada alam.


perjalanan misa alam ..


mencoba merasakan beratnya aktifitas penambang pasir manual

bacaan kitab suci

menyusuri jeram sungai Senowo

performance art "Tari Topeng 3 karakter"

konsentrasi; menikmati sajian kesenian di Tutup Ngisor

apresiasi; sharing budaya

pegangan, awas jangan sampai lepas...

menyusuri sungai...

membasuh diri di mata air...

merasakan sejuk air alami..

penerimaan komuni

Nasi doa....

menyantap nasi doa..

Valentine bumi, "menaman air" untuk masa depan

Malam Ekspresi Budaya

Desa-desa di lereng Merapi dikenal kaya akan berbagai kesenian tradisi. Kesenian ini merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari warga dan menjadi media yang menghimpun dan mempersatukan masyarakat dari berbagai latar belakang status sosial, kedudukan maupun kepercayaan.

Dalam kegiatan live in ini, peserta melakukan interaksi dengan komunitas kesenian yang ada di lingkungan mereka tinggal dan belajar kesenian tradisi untuk dipentaskan dalam malam pentas seni dan keakraban.

Sungguh mengagumkan, hanya dalam 1 - 2 kali latihan, para peserta tidak canggung mementaskan berbagai
kesenian seperti tarian Jalantur, Dayakan, Cakar Lele, Warokan dan tari black didot yang sudah sangat jarang bahkan hampir tidak mungkin lagi ditemui di tempat asal peserta.
Berbekal kostum pinjaman dari warga serta hiasan yang dibuat sendiri dari daun-daunan, para peserta berbagi kegembiraan dengan warga di sekitar Gubug Sela Merapi.



persiapan pentas

pentas kesenian warokan

para peserta dengan kostum siap pentas

tari black didot

tari cakar lele

tari dayakan

bakar ikan; solusi rasa lapar sehabis pentas..

Refleksi bersama

Di akhir kegiatan live in, peserta berkumpul di Gubug Sela Merapi untuk refleksi bersama dan berpamitan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Yogyakarta dan kembali pulang ke kota Bogor.

Lima hari tinggal bersama masyarakat merupakan waktu yang sangat singkat; hanya sepotong proses belajar dalam rentang waktu yang amat panjang dalam kehidupan para siswa-siswi. Dalam lima hari ini pula ada banyak pengalaman baru yang didapat oleh peserta. Dan akhirnya, semua pengalaman yang didapat dalam kegiatan live in tersebut hanya akan berguna jika direnungkan, direfleksikan untuk kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan mendatang.



packing; siap pulang...

labelling; memberi label oleh-oleh..

bertukar nomor kontak..

Sharing pengalaman selama live in

Kenang-kenangan dari SMA BHK kepada umat Gubug Sela Merapi

(Komentar, saran dan kritik bisa dialamatkan kepada email admin - Trims)

Kamis, 31 Januari 2008

Live in Magis08 - Australia-Jakarta-Jogja

Kaum Muda : Menjadi Lebih

Pada tanggal 18 - 21 Januari 2008, bertempat di Lingkungan Grogol dan Kajangkoso Wilayah Lor Senowo telah diadakan kegiatan Live in dari Kelompok Magis Yogyakarta, Jakarta dan Australia.
Magis yang dalam bahasa Latin berarti lebih, merupakan kelompok pendampingan Kaum Muda yang diprakarsai oleh Kongregasi Ignatian. Tujuan kegiatan Magis ini adalah mendampingi kaum muda yang berkeinginan untuk lebih maju dalam hidup rohani bersama dengan semua orang di seluruh dunia.
Secara khusus, program live in di Wilayah Lor Senowo ini dimaksudkan untuk mempersiapkan anggota-anggota Magis dari Australia dalam menyambut Hari Orang Muda Sedunia di Sidney bulan Juli 2008 mendatang.
Sedangkan penggunaan metode live in bertujuan agar :

- anggota komunitas Magis08 dari berbagai negara untuk saling mengenal dalam rangka membangun komunitas Magis 08 Internasional

- membangun jaringan internasional antar peserta agar di masa mendatang persahabatan dan persaudaraan dapat semakin dipererat.

- Membantu peserta memperdalam hidup rohani melalui roses belajar dan refleksi di tengah kondisi riil masyarakat

- Membantu peserta semakin mengenal 3 perhatian utama gereja Indonesia, yaitu keanekaragaman budaya, pluralitas agama dan kemiskinan

Selama 4 hari tinggal bersama keluarga angkat, para peserta mengikuti semua kegiatan yang dilakukan oleh keluarga yang ditempati: kegiatan di ladang, memasak, membersihkan rumah dll.

Peserta juga mengikuti misa bersama umat di Gereja St. Petrus Kanisius Lor Senowo. Dalam misa ini diadakan sharing peserta live in dan umat.

Pada hari ketiga diadakan acara susur Sungai Senowo. Acara ini dimaksudkan untuk membangun sikap mencintai Tuhan lewat mencintai alam ciptaan Tuhan sendiri.

Berikut Foto-foto kegiatan Live in Magis08 :

Aktifitas di ladang

Bintang tamu acara talk show Radio Komunitas DRR 107.7 MHZ

Malam keakraban dan pentas budaya

sejenak merasakan aktifitas menambang pasir

Berangkat ke Gereja bersama umat Lor Senowo

Sharing bersama umat

Perayaan ekaristi di Gereja Gubug Sela Merapi

Acara jelajah Sungai Senowo

Susur jeram sungai Senowo

Festival Cuci Muka di Pancuran Kajangkoso

Sr. Inez

Risang

Frater Philip SJ

Bayu

Pip

Sharing pengalaman jelajah sungai Senowo

Beberapa Komentar peserta dan Pendamping Live in Magis08


Bro Philip Moller SJ :

"The warm welcome and generous love that we have experienced with you has had a very deep effect on us. Thank you for caring us like your own family. The Lord has blessed us abundantly through you all. You are in my praise."







Brigid Coleride :

"During the past 4 days, I have had some memorable experiences of my life. Thank you so much for sharing your lives with us over this time.I will always be grateful to you"







Vincentius M. Bayu Suryanto"

"Tuhan sunguh hadir dan berkarya dalam berbagai segi kehidupan…Terima kasih atas cinta kasih dan karya besar masyarakat di Sumber bagi Nusantara ini. Amin"








Julia Lee :

"Thank you for the warm welcome + your generous hospitality.This community is so special, and the friends + memories I have made, I will never forget"









Wiwin:

"Geat, wonderful.Warm. Beautiful. Only + words"

Senin, 28 Januari 2008

Workshop Dialog Antaragama di Indonesia, Universitas Barkeley California

















Berikut foto-foto kegiatan Workshop Dialog Antaragama di Indonesia di Paroki Sumber :

Dialog hubungan antar agama dan budaya di Paroki Sumber

Rm. Kirjito, pastor Paroki Sumber di antara para peserta dialog dari JSTB

suasana dialog : Romo Tom dan Sodiq Asnawi

Kunjungan - dialog Budaya di Padepokan Tjipta Boedaja Merapi Tutup Ngisor :

Pengelola Padepokan Tjipta Boedaja bersama peserta dialog

Foto bersama di panggung Tjipta Boedaja

kunjungan lapangan ke penambangan pasir desa Keningar

Misa Budaya di Gubug Sela Merapi - Lor Senowo :

kiri -kanan : Rm Kirjito, Romo Tom dan Rm. Jim

Kelompok koor terbangan dari Wilayah Juwono

sharing pengalaman

kelincahan pengendang cilik dari Dadapan memukau peserta dialog

suasana konsekrasi


penerimaan komuni suci

nyanyi dan ucapan selamat ulang tahun bagi Rm. Jim


Rm. Jim memberkati "nasi doa"

suasana makan malam

Pentas kesenian "Gasir Ngenthir" dusun Grogol



Kunjungan ke mata air dan Rado Komunitas DRR Merapi :

mengunjungi mata air "Tuk Andong" (Andum Donga)

merasakan kesejukan mata air Merapi



kelompok seni anak-anak "cakar lele" berlatih disaksikan Merapi

kunjungan di studio Radio DRR Merapi 107.7 FM

Foto bersama di depan Susteran AK Sumber

Minggu, 27 Januari 2008

Natalan Oikumene Kesehatan "Agape" Magelang

Pada tanggal 10 Januari 2007, Kelompok Doa Oikumene "Agape" Tenaga Kesehatan Kota Magelang mengadakan kegiatan Perayaan Natal bersama di Paroki Sumber.
Perayaan Natal bersama berbentuk misa Alam ini diikuti hampir 200 orang anggota Oikumene beserta anggota keluarga mereka, dimulai dari Gereja Katolik Santa Maria Lourdes Sumber berjalan kaki menuju Kapel Gubug Sela Merapi Wilayah Lor Senowo sejauh lebih kurang 2,5 km melintasi areal persawahan dan sungai.

Dalam perjalanan yang terbagi menjadi 6 kelompok, para peserta dalam tiap-tiap kelompok didampingi oleh pemandu dari Tim Edukasi Gubug Sela Merapi Lor Senowo.
Sepanjang perjalanan,para peserta diajak untuk mengamati alam sekitar, mencoba menghitung betapa besar kasih karunia Tuhan kepada manusia lewat kekayaan alam di sekitar kita : tumbuh-tumbuhan, hewan, udara sejuk, hangat sinar matahari dan kesejukan air.

Di tengah perjalanan, para peserta diajak mampir ke Padepokan Cipta Budaya Merapi dusun Tutup Ngisor desa Sumber untuk sejenak beristirahat dan berdialog tentang kehidupan budaya masyarakat lereng Merapi.

Usai beristirahat, perjalanan dilanjutkan ke mata air Tutup. Di mata air ini, peserta diajak satu-persatu untuk merenungkan dan merasakan kehadiran Tuhan lewat sentuhan air yang dapat dirasakan oleh tubuh kita dalam acara "Festival Cuci Muka".

Usai Festival Cuci Muka, perjalanan diteruskan ke Gubug Sela Merapi menyusuri Sungai Senowo. Di Gubug Sela Merapi misa diteruskan dengan sharing untuk saling memperkaya pengalaman batin para peserta. Tak lupa lagu dan ucapan Selamat Ulang tahun dilantunkan bagi para peserta yang kebetulan berulang tahun..

Usai misa, dilanjutkan pembagian "nasi doa", nasi yang terbuat dari bahan-bahan terpilih, diolah spesial untuk disajikan pada kesempatan spesial...
Acara diakhiri dengan hiburan dari anggota Oikumene Agape dan Pentas Seni topeng ireng dusun Kepil desa Krinjing.

Berikut Foto-foto kegiatan Natal Bersama Oikumene Kesehatan Kota Magelang di Gubug Sela Merapi Paroki Sumber.

Sodiq Asnawi, seorang muslim dan aktifis lingkungan hidup, memandu perjalanan dalam misa alam

mengamati alam sekitar, menghitung betapa besar pemberian Tuhan.
Berapa yang sudah kita manfaatkan? berapa yang kita jaga?

menyusuri pematang sawah, merasakan hijau sejuk alam Merapi

Berdoa di mata air "Sendang Sari", merenungkan karunia Tuhan lewat Mata Air.

sharing budaya di Padepokan Cipta Budaya Merapi Tutup Ngisor

performance art dari Padepokan Cipta Budaya Merapi Tutup Ngisor

Perjalanan menuju mata air..

antre minyak?? Bukan...

antre cuci muka di mata air...

FESTIVAL CUCI MUKA:
menanamkan budaya cinta pada air sejak dini..



JELAJAH SUNGAI SENOWO :



bacaan Kitab Suci


Selamat Ulang Tahun, semoga panjang umur dan bahagia..
suasana misa di Gubug Sela Merapi


Pembagian "nasi doa"

menikmati "nasi doa"

HIBURAN-HIBURAN :

"supermama seleb show"....

Paduan suara..

Para penonton...


Pentas Topeng Ireng dari Kepil Desa Krinjing..

Jumat, 18 Januari 2008

Natal Gubug Sela Merapi 2007

Natal Gubug Sela Merapi 2007


Foto-foto Acara Natal 2007 di Gubug Sela Merapi

Lantunan gending-gending Slendro mengiringi Misa Natal

Senthir dan uba rampe "tolak bala"; mengusung suasana masyarakat desa
menyambut kelahiran manusia baru

Bayi Yesus dalam "tampah" dan alat-alat kerja
yang akan diberkati

happening arts dari Padepokan Cipta Budaya Tutup Ngisor dan
Padepokan Gadhung Melati Ngampel

happening arts dari Padepokan Cipta Budaya Tutup Ngisor dan
Padepokan Gadhung Melati Ngampel

Patung bayi Yesus dalam "palungan"

Persembahan umat kepada Yesus, Gusti Sang Timur

Suasana konsekrasi

Sebagaian umat yang mengikuti misa

"palungan" Yesus dengan latar belakang Pengrawit dari
Padepokan Cipta Budaya Merapi Tutup Ngisor

Pentas wayang orang "Tirta Prawita Mahening Suci",
Bima bertemu ular naga dalam perjalanan mencari air suci

Pentas wayang orang "Tirta Prewita Mahening Suci",
Dialog kontemplatif Bima dan Dewa Ruci

Pentas wayang orang "Tirta Prewita Mahening Suci"

Pesta rakyat...

Senin, 26 November 2007

Misa Alam Lingkungan St. Monika, Sendangguwo

Misa Alam
Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, 25 November 2005
Bersama umat Lingkungan St. Monika Paroki St. Paulus Sendangguwo, Semarang

Pengantar :

Kalangan ilmuwan, akademisi, seniman, budayawan mengambil sikap untuk menyelamatkan alam. Ilmuwan pro-lingkungan lah yang dewasa ini paling terhormat. Demikian juga seniman dan budayawan. Mereka mempunyai agenda “liturgi” yang jelas untuk menyelamatkan alam dan lingkungan. Green Peace misalnya; sebuah organisasi paling besar di tingkat internasional yang anggotanya sangat lengkap dari ilmuwan, budayawan, senman, ekonom, rohaniwan dsb.

Kami, komunitas kristiani yang tinggal di Lereng merapi mulai menyadari bahwa Tuhan menciptakan alam yang sangat kaya, subur, indah, namun juga memiliki gunung api yang menyimpan misteri. Letusannya bisa membawa bencana. Dan mulai terjadi pelaku eksploitasi alam yang merusak alam.

Salah satu keprihatinan hidup di Millenium ke-3 ini adalah pemanasan global karena gas pembakaran dan kerusakan lingkungan. Yang menjadi kecemasan para ahli adalah keselamatan planet Bumi ini dan semua makhluk termasuk manusia. Sekarang saja sudah banyak penderitaan bencana alam, banjir, tanah longsor dsb.

Apa yang bisa dilakukan oleh komunitas umat Kristiani?

Sebagian besar umat kristiani mungkin terlanjur ikut arus umum yang secara tidak sadar ikut andil dalam proses kerusakan alam. Di Indonesia ini mungkin bermilyar-milyar rupiah tiap tahun dikeluarkan untuk membangun gedung gereja yang bagus, kokoh bahkan indah artistik. Sangat tidak disengaja itu semua mengantarkan umat kristiani hanya untuk bertemu Tuhan di dalam gedung gereja, sehingga Romo Dr. Tom Jacob SJ sampai memberi istilah “menjinakkan” Tuhan (di dalam gedung gereja)

Akibatnya; di alam, di lingkungan kerja sehari-hari, manusia bertindak semaunya.

Kami mulai membangun sikap mencintai Tuhan, dengan mencintai alam ciptaanNya itu. Maka kami memilih jalur pro penyelamatan alam dan lingkungan.

Kita mencari Tuhan, menjupainya selain di dalam gedung gereja juga di dalam alam dan budaya Lereng Merapi ini.

Misa alam adalah salah satu yang kami kembangkan.

Misa Alam Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam, 25 November 2005

Misa Alam ini dilakukan dalam sebuah perjalanan yang dimulai dari Gerja St. Maria Lourdes Sumber menuju Gubug Selo Merapi, Wilayah Lor Senowo.

Pembukaan dilakukan di Sumber. Bacaan,renunga, doa-doa peribadi dilaksanakan di sepanjang perjalanan, di mata air “Sendang Sari” Sumber dsb.

Dalam perjalanan, peserta misa alam mampir di padepokan Seni Cipta Budaya Merapi Tutup Ngisor untuk sedikit mengenal dan menyaksikan aktifitas yang sedng berlangsung di padepokan.

Setelah itu, peserta meneruskan perjalanan ke sungai Senowo dengan acara “festival cuci muka” di pancuran mata air Sungai Senowo. Dengan acara ini, peserta misa alam diajak merasakan sentuhan cinta Tuhan dalam getaran air yang menyapa wajah dan tubuh kita.

Selanjutnya prosesi menuju Gubug Selo Merapi. Di sana umat berdialog, saling memperkaya pengalaman batin.

Puncak misa adalah ekaristi. Seusai ekaristi ditutup dengan makan bersama ‘nasi doa”.

Teks : V. Kirjito, Pr.

Foto-foto : Anton Wijayanto

Berikut Foto-foto misa Alam


Menyusur pematang sawah, menikmati hangatnya mentari sejuknya angin Merapi

berdoa di mata air "Sendang Sari"

Suasana di Pendopo Tutup Ngisor

Aktifitas latihan menari anak-anak Padepokan Cipta Budaya Merapi

Tarian meditatif, doa dalam gerakan tari

Sharing pengalaman

Perjalanan ke Kali Senowo

"Festival Cuci Muka"


Susur sungai Senowo

berbagi pengalaman, saling memperkaya

Suasana misa di Gubug Selo Merapi


Penerimaan komuni diiringi lantunan gender

Menikmati nasi doa


Ruang doa di Gubug Selo Merapi


Oleh-oleh sayuran segar dari Merapi

Selamat jalan, Tuhan memberkati..

Rabu, 10 Oktober 2007

Live in SMA Stella Duce 2 Yogyakarta 2007


Live in SMA Stella Duce 2 Yogyakarta 2007

Menindaklanjuti kerjasama yang telah terjalin pada tahun 2006 yang lalu, pada tanggal 6-9 Oktober 2007, SMA Stella Duce 2 Yogyakarta yang beralamat di Jl. Dr. Sutomo 16 Yogyakarta mengadakan kegiatan live in di Gubug Sela Merapi Wilayah Lor Senowo Paroki Sumber Magelang.

Live in periode kali ini diikuti 112 siswi kelas XI IPA,IPS dan Bahasa yang ditempatkan di lingkungan-lingkungan Dadapan, Semen, Kajangkoso, Grogol dan Sewukan.

Di lingkungan tersebut, para siswi ditempatkan dalam keluarga-keluarga petani dan belajar merasakan kehidupan sederhana petani kecil di lereng Merapi.

Di dalam keluarga angkat tersebut, para siswi mengikuti segala aktifitas keluarga angkat yang mereka tempati, seperti kegiatan ke sawah/ladang, menjual hasil pertanian ke pasar, memasak, membersihkan rumah, interaksi dengan lingkungan lewat kegiatan doa rosario dan misa bersama, serta mengikuti jelajah alam Merapi dan misa di alam terbuka untuk lebih mendekatkan siswi kepada alam.

Tujuan kegiatan live in kali ini adalah :

- Mengembangkan kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain.

- Semakin mampu menghargai dan menghormati orang lain dengan segala perbedaaan yang dimiliki (status sosial, latar belakang budaya, adat, agama, bahasa, dll. )

- Mampu mengenal dan memahami realitas hidup di masyarakat.

- Semakin peka terhadap situasi sosial dan lingkungan, serta mampu mengembangkan kemampuan dan ketrampilan untuk menganalisa permasalahan sosial dan lingkungan yang terjadi di sekitarnya

- Mampu menemukan, menghayati nilai-nilai hidup yang didapatkan dari interaksi dengan sesama dan alam sekitar

- Mampu merefleksikan nilai-nilai yang diperoleh selama proses edukasi ini dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

- Berani menentang arus jaman.

Secara khusus, para siswi mendapat tugas dari sekolah untuk membuat semacam analisa sosial yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari. Analisa sosial ini bertujuan mengembangkan kemampuan interaksi peserta dengan masyarakat dan meningkatkan kepekaan sosial peserta terhadap masyarakat dan lingkungan sekitarnya.

Pada akhir live in, diadakan sharing bersama, saling bertukar pengalaman selama 4 hari kegiatan live in.

Pada akhir sharing, Rm. Suprihadi, Pr, selaku Romo Pendamping kegiatan live in berpesan bahwa 4 hari kegiatan live in tersebut merupakan masa yang sangat singkat; hanya sepotong proses belajar dalam rentang waktu yang amat panjang dalam kehidupan para siswi. Semua pengalaman yang didapat dalam kegiatan live in tersebut hanya akan berguna jika direnungkan, direfleksikan untuk kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan mendatang.

Berikut ini sebagian foto-foto kegiatan live in yang didokumentasikan oleh Tim Edukasi Gubug Sela Merapi.


Aktifitas harian Peserta Live in :


Wajah baru Gubug Sela Merapi,
pusat kegiatan edukasi iman berbasis alam dan budaya Merapi


Menuju ke tempat tinggal dengan angkutan khas desa..

Membantu membuat kue-kue kering untuk lebaran...

Doa Rosario bersama umat sekitar

Interaksi dengan warga ,
menimba ilmu dan pengalaman dari orang-orang sederhana..

Memetik buncis

Memupuk kembang kol

Mencari pakan ternak..

Menghilangkan gulma, menyiangi tanaman..

Belajar memanen buah melody..

Sortir produk...

Misa bersama umat di Kapel St. Petrus Kanisius

Doa umat dalam misa..

Penerimaan komuni suci..


Suasana sharing bersama di lingkungan

Jelajah Alam Merapi - Games - Misa Alam


"Kendi kasus",
melatih kerjasama untuk mengambil keputusan dan memperbaiki keadaan...

"Jembatan goyang",
melatih keseimbangan, fokus pada arah dan tujuan..

"Rakit penyeberangan"
melatih kerjasama dengan partner..

"Papan labirin",
melatih komunikasi, inisiatif, kepemimpinan

Bacaan Kitab Suci..


Susur sungai

"Rintangan Dam Air",
melatih kerjasama, kerelaan berkorban, semangat juang..


Tetap ceria, meski lutut lecet-lecet..

"Altar"..
Alam telah menyediakannya..

Rm. Supri memimpin misa di alam terbuka

Bergandengan tangan dalam kasih,
dalam satu hati berjalan dalam terang kasih Tuhan..

Penerimaan Komuni Suci

Nasi doa..

Menikmati nasi doa..
mak nyuss.. enak tenan...

"Perjalanan pulang"
jatuh bangun adalah hal yang biasa...



Refleksi dan Evaluasi Bersama

Oleh-oleh dari orang tua angkat..

Sharing pengalaman ...

berbagi pengalaman, saling memperkaya..

Kenang-kenangan dari Sekolah...

"Gone but not forgotten..."